29 Februari 2012

Etika Bisnis dan Lingkungan


2.1       Lingkungan Hidup: Gambaran Umum
               Lingkungan hidup adalah lingkungan di sekitar manusia, tempat dimana organisme berkembang dan berinteraksi.[1] Definisi lain ada yang menyatakan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.[2]
               Istilah lingkungan hidup pertama kali dimunculkan oleh Ernest Haeckel, seorang murid Darwin pada tahun 1866, yang menunjuk kepada keseluruhan organisme atau pola hubungan antar organisme dan lingkungannya. Ekologi berasal dari kata
oikos dan logos, yang secara harfiah berarti ” rumah” dan “lingkungan”. Ekologi sebagai ilmu berarti pengetahuan tentang lingkungan hidup atau planet bumi ini sebagai keseluruhan. Jadi lingkungan harus selalu dipahami dalam arti oikos, yaitu planet bumi ini. Sebagai oikos, bumi mempunyai dua fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai tempat kediaman (oikoumene) dan sebagai sumber kehidupan (oikonomia/ ekonomi).[3]
               Lingkungan hidup di planet bumi dibagi menjadi tiga kelompok dasar, yaitu lingkungan fisik (physical environment), lingkungan biologis (biological environment), dan lingkungan sosial (social environment). Di zaman modern ini teknologi dianggap mempunyai lingkungannya sendiri yang disebut teknosfer, yang kemudian dianggap mempunyai peran penting dalam merusak lingkungan fisik.[4]
2.2       Prinsip Etika Lingkungan Hidup.[5]
   Prinsip ini menjadi pegangan dan tuntutan bagi perilaku kita dalam berhadapan dengan alam, baik perilaku terhadap alam secara langsung maupun perilaku terhadap sesame manusia yang berakibat tertentu terhadap alam. (Keraf, 2002):
1.      Sikap Hormat terhadap Alam (Respect for Nature)
Pada dasarnya semua teori etika lingkungan mengakui bahwa alam semesta perlu untuk dihormati. Secara khusus sebagai pelaku moral, manusia mempunyai kewajiban moral untuk menghormati kehidupan, baik pada manusia  maupun makhluk lain dalam komunitas ekologis seluruhnya.

2.      Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility for Nature)
Kelestarian dan kerusakan alam merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. semua orang harus bisa bekerja sama bahu membahu untuk menjaga dan melestarikan alam dan mencegah serta memulihkan kerusakan alam.

3.      Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)
Dalam diri manusia timbula perasaan solider, senasib sepenanggungan dengan alam dan sesama makhluk hidup lain. Prinsin ini bisa mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan dan semua kehidupan di alam ini.

4.      Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian (Caring for Nature)
Prinsip ini tidak didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi, tetapi semata-mata demi kepentingan alam.

5.      Prinsip “No Harm
Terdapat kewajiban, sikap solider dan kepedulian, paling tidak dengan tidak melakukan tindakan yang merugikan atau mengancam makhluk hidup lain.

6.      Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam
Prinsip ini menekankan pada nilai, kualitas, cara hidup yang baik, bukan menekankan pada sikap rakus dan tamak. Ada batas hidup secara layak sebagai manusia, yang selaras dengan alam.

7.      Prinsip Keadilan
Prinsip ini menekankan bahwa terdapat akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat untuk ikut dalam menentukan kebijakan pengelolaan dan pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam.

8.      Prinsip Demokrasi
Prinsip ini terkait erat dengan hakikat alam, yaitu keanekaragaman dan pluralitas. Demokrasi member tempat seluas-luasnya bagi perbedaan, keanekaragaman dan pluralitas. Prinsip ini sangat relevan dengan pengambilan di bidang lingkungan dan memberikan garansi bagi kebijakan yang pro lingkungan hidup.

9.      Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini terutama untuk pejabat public, agar mempunyai sikap dan perilaku  yang terhormat serta memegang teguh prinsip-prinsip moral yang mengamankan kepentingan public untuk menjamin kepentingan di bidang lingkungan.

2.3       Relasi Etika, Bisnis dan Lingkungan Hidup: Sebuah Keniscayaan.[6]
               Fenomena banjir dan tanah longsor yang seringkali terjadi merupakan akibat ulah manusia yang tak pernah memperlakukan alam sebagaimana layaknya. Oleh karena itu, kita jangan pernah menyalahkan alam, apalagi Tuhan. Kejadian bencana itu merupakan salah satu indikator bahwa manusia telah kehilangan kepekaannya untuk saling menyapa dan menyayangi alam semesta ini. Alam sebagai sumber kehidupan telah dieksploitasi oleh manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab dan hanya mengejar keuntungan jangka pendek. Mereka dengan sengaja dan terang-terangan melakukan penjarahan hutan dan penebangan secara liar (illegal logging) tanpa mengedepankan aspek kerugian yang ditimbulkan.
     Buah kecerobohan tersebut, tak ayal lagi, bila kemudian terjadi krisis ekologi, krisis bumi, krisis air bersih, krisis udara bersih, dan krisis kemanusiaan yang berkelanjutan. Hal ini merupakan dampak dari ulah dan kecerobohan manusia yang melakukan penjarahan isi bumi yang terus-menerus. Di sisi lain kejahatan ekologis ini ternyata juga dilakukan karena ada muatan kepentingan ekonomi dengan kecanggihan alat teknologi.
     Melihat realitas di atas, jelas manusia telah kehilangan hati nuraninya yang seharusnya menghargai nilai-nilai etika lingkungan, yakni etika yang menjadi seperangkat aturan untuk mengatur hubungan manusia dengan alam. Etika yang memandang alam sebagai kesatuan utuh yang saling melengkapi. Tapi, mengapa alam justru semakin dirusak oleh manusia yang tak bermoral. Tidak salah apabila jika alam marah dan memporak-porandakan segala harta, bahkan menghilangkan nyawa manusia.
     Etika lingkungan hidup menuntut agar nilai etika dan moralitas diberlakukan bagi seluruh komunitas manusia karena merekalah yang banyak menaruh andil pengrusakan lingkungan. Etika harus dipahami sebagai bagian dari kepekaan atas prinsip atau nilai moral yang selama ini dikenal dalam komunitas manusia secara universal untuk diterapkan secara lebih luas dalam kehidupan di planet bumi. Selain itu, dalam perpektif etika lingkungan ini manusia harus memperlakukan alam tidak semata-mata dalam kaitannya untuk kepentingan dan kebaikan manusia. Etika ini seharusnya berorientasi untuk mengembangkan kesadaran bahwa pelestarian lingkungan juga untuk kepentingan seluruh makhluk, baik makhluk hidup maupun mati. Yang dimaksudkan adalah bagaimana kita bersikap terhadap alam ini, apa yang sebaiknya kita lakukan dan kita tinggalkan, apa yang seharusnya dan yang tidak seharusnya kita lakukan terhadap makhluk lain seperti tumbuhan (flora), hewan (fauna), tanah, air, dan lain sebagainya.
     Bisnis merupakan kegiatan yang berhubungan dan berkepentingan dengan lingkungan. Aktivitas bisnis merupakan kegiatan pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang disediakan oleh alam lingkungan. Sebab itu, relasi antara etika, bisnis dan lingkungan hidup sangat erat sekali. Hal ini mengandung pengertian, jika bisnis itu membutuhkan bahan baku dari alam, bagaimanapun alam itu harus diperlakukan secara layak tanpa merusak habitatnya. Ini semua merupakan tanggung jawab suatu perusahaan (pelaku bisnis) yang bersifat eksternal, bagaimana perusahaan mempunyai tanggung jawab dan sosial untuk memperbaiki dan melindungi lingkungan kearah yang lebih baik.
     Agar suatu perusahaan (bisnis) tetap menjaga keseimbangan antara etika, bisnis dan lingkungan hidup, perlu adanya suatu aturan-aturan tertentu yang memuat ketentuan bagaimana mengelola dan mempergunakan sumber daya alam (nature resources) untuk bahan produksinya dengan baik dan tidak mengekploitasinya secara berlebihan. Dalam hal ini perusahaan perlu bersama-sama pelanggan (konsumen- stakeholder), pemasok dan pelaku bisnis lainnya menjalankan praktik bisnis yang berwawasan lingkungan. Perusahaan harus berupaya mengimplementasikan nilai-nilai etika dan hukum dalam praktik-praktik bisnis dan bertanggung jawab untuk melindungi lingkungan demi keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan manusia secara universal.
2.4  Pendayagunaan dan Pelestariaan Lingkungan Hidup: Perspektif Islam.
       Tanggung jawab moral bisnis,[7] implementasinya bisa pada tanggung jawab sosial.[8] Bahkan yang tidak kalah pentingnya tanggung jawab pada lingkungan alam. Dari sejumlah tanggung jawab itu sebenarnya yang paling krusial adalah tanggung jawab pada diri sendiri dan kepada Tuhan.[9] Ada beberapa pandangan tentang tanggung jawab sosial bisnis, yaitu apa atau sejauh mana ruang lingkup dan siapa yang memikul tanggung jawab itu. Mengenai apa dan siapa ini, pakar dan pengikut kaum klasik, bahkan termasuk kaum neo-klasik dan modern, mulai Adam Smith, Thomas Hobbes, John Locke, Milton Friedman, Theodore Levitt, dan John Kenneth Gabraith berpendapat bahwa bisnis adalah korporasi impersonal yang bertujuan untuk memperoleh laba (profit). Sebagai institusi impersonal atau pribadi yang artifisial, bisnis tidak mempunyai nuranu, sehingga tidak bertanggung jawab secara moral.[10]
       Dalam perkembangan etika bisnis yang lebih mutakhir, muncul gagasan yang lebih komprehensif mengenai lingkup tanggung jawab sosial perusahaan. Tanggung jawab sosial perusahaan dewasa ini lebih dikenal dengan istilah yang sangat populer, yaitu Corporate Social Responsibility (CSR). Tanggung jawab di sini pada prinsipnya mengedepankan berbagai alasan, apa dan mengapa perusahaan wajib mempunyai kepedulian kepada lingkungan (eksternal). Sebuah perusahaan tidaklah mungkin hanya sebagai sebuah “menara gading” yang hanya memperhatikan dirinya sendiri (introvert), karena tanpa dukungan lingkungan sosial dan alam hampir mustahil sebuah perusahaan bisa berkembang sesuai yang diharapkan. Salah satu alasan pertimbangan perlunya tanggung jawab sosial karena perusahaan telah diuntungkan dengan mendapat hak untuk mengelola sumber daya alam dalam masyarakat setempat dengan mendapatkan keuntungan bagi perusahaan tersebut. Demikian pula, sampai tingkat tertentu, masyarakat telah menyediakan tenaga-tenaga profesional bagi perusahaan yang sangat berjasa mengembangkan perusahaan tersebut. Karena itu keterlibatan sosial merupakan balas jasa terhadap masyarakat.[11]
       Dalam kaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dan pelestariannya, Islam menuntun manusia agar mengelola kekayaan alam dengan ilmu dan amal.[12] Di samping, mengingatkan agar dalam mengolah (memproduksi) kekayaan alam itu memperhatikan batas-batas haramdan halal, dan memelihara kelestariannya.[13] Al-Qur’an menerangkan bahwa pemanfaatan kekayaan yang tersimpan dan tersebar di alam ini, tergantung pada dua hal,[14] yakni pertama, ilmu pengetahuan yang didasarkan pada tafakkur dan penggunaan akal. Ilmu yang dimaksudkan di sini, adalah ilmu-ilmu khusus (spesial) dalam berbagai bidang pengetahuan[15] dan berbagai bidang kehidupan. Kedua, adalah amal (action/ implementation). Sesungguhnya ilmu saja tidak akan membuahkan hasil jika tidak diikuti oleh amal (tindak lanjut) dengan melakukan berbagai eksplorasi. Yang dimaksud adalah amal usaha yang terus-menerus di setiap pelosok bumi untuk mengeluarkan segala isinya, memanfaatkan kekayaannya, dan selanjutnya memakan rizki Allah yang ada padanya. Allah berfirman:


 



“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”[16]
       Sumber daya alam merupakan nikmat Allah kepada makhluk-Nya. Manusia wajib mensyukurinya. Di antara bentuk syukur itu adalah menjaganya dari kerusakan, kehancuran, polusi, dan lain-lain yang tergolong sebagai kerusakan di muka bumi.[17] Oleh karena itu al-Qur’an menyebutkan berulang-ulang bahwa Allah tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan sebagaimana firman-Nya:

“Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”.[18]
       Dalam firman-Nya yang lain juga dijelaskan:
“Dan apabila ia berperang (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.[19]
       Betapa besar perhatian Islam terhadap masalah lingkungan, baik terhadap makhluk hidup maupun mati. Perhatian itu seringkali disertai dengan ancaman. Misalnya, Islam mengancam pada pembunuh burung secara sia-sia dan pemotong pohon bidara. Di samping juga memotivasi, seperti himbauan agar tidak menyia-nyiakan kekayaan pertanian dan peternakan, tidak menyembelih binatang perahan, mendorong menghidupkan tanah mati agar bermanfaat untuk pertanian, dan lain sebagainya.[20] Hanya saja sesuai dengan karakter ajaran Islam secara universal, dalam upaya mengelola dan melestarikan lingkungan selalu mengedepankan etika (akhlak) yang bersumber dari ajaran wahyu. Oleh karena itu norma-norma yang diaplikasikan adalah berbasis al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.


[1] Robert P. Borrong, Etika Bumi Baru (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1999), 16 dalam Muhammad, Djakfar, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2007) hal:134.
[2] www. menlh.go.id dalam ibid
[3] Muhammad, Djakfar, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2007) hal:135.
[4] Borrong, Etika, 18-19 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 135.
[5] Ernawan, 2007.  hal: 46-49
[6] Muhammad, Djakfar, dalam Op.cit., hlm. 142.
[7] Baca Peter Pratley, Etika Bisnis (Yogyakarta: Andi, 1997), 87 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 145.
[8] Baca Sonny Keraf, Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya (Yogyakarta: Kanisius, 1998) dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 145.
[9] Pengertian etika (akhlak) dalam Islam, tidak saja tuntutan berbuat baik (ihsan) kepada orang lain, dalam arti kepada sesama manusia. Tetapi juga tertuju pada alam lingkungan sekitar kita, bahkan yang terpenting akhlak pada diri sendiri, terlebih lagi kepada Tuhan. Lihat Muhammad Djakfar, Agama, Etos Kerja dan Perilaku Bisnis (Studi Kasus Makna Etika Bisnis Pedagang Buah Etnis Madura di Kota Malang), disertasi Program Doktor Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2007 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 146.
[10] Joseph W. Weis, Business Ethics: A Managerial, Stakeholder, Approach (California: Wadsworth Publishing, Co., 1994), 88 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 146.
[11] Keraf, Etika, 124 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit,. hlm. 147.
[12] Yusuf Qardawi, Peran dan Nilai Moral Dalam Perekonomian Islam, ter . K.H. Didin Hafidhuddin, dkk (Jakarta: Robbani Press, 1995), 141 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit,. hlm. 148.
[13] Ibid., 169-173 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm 148.
[14] Ibid., 141-147 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm 148.
[15] Beberapa ilmu khusus yang digunakan untuk mengeksplorasi alam, antara lain geologi (lihat QS., Fathir, 35: 27), biologi dan zoologi (lihat QS., Fathir, 35: 28) dan tentu masih banyak lagi yang bertebaran dalam al-Qur’an dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 148.
[16] QS., al-Mulk, 67: 15 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit,. hlm. 149.
[17] Qardhawi, Nilai, 173. Lihat Buchari Alma, Dasar-Dasar Etika Bisnis Islami (Bandung: CV, Alfabeta, 2003), 241-242 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm.151.
[18] QS., al-Ma’idah, 5: 64 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 151.
[19] QS., al-Baqarah, 2: 205 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 151
[20] Untuk jelasnya, lihat Qardawi, Nilai, 174-178 dalam Muhammad, Djakfar, Op.cit., hlm. 152.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes